Imajinasi...

http://i2.liverpoolecho.co.uk/incoming/article6839359.ece/ALTERNATES/s510b/at160314alfc-22-6839359.jpg


“I'm enough of an artist to draw freely upon my imagination. Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world. Logic will get you from A to Z, imagination will get you everywhere.” 


Anda semua pasti pernah mendengar atau membaca salah satu quote paling terkenal dari seorang jenius bernama Albert Einstein tersebut. Imajinasi. Setiap manusia memiliki imajinasi yang berujung pada impian. Tetapi tak semuanya berani untuk berimajinasi dan merealisasikan impian yang lahir dari batin terdalam mereka.
Einstein membuat pernyataan itu bukan tanpa alasan. Logika manusia sedikit banyak memang menghambat imajinasi. Ketika manusia sedikit saja melihat sesuatu yang tak masuk akal menurut logika, mereka langsung berpaling dan mencari sesuatu yang lebih mudah atau masuk akal.

Tak berbeda dengan sepak bola yang kadang memaksa para pencintanya untuk berimajinasi akan suatu momen. Momen dimana para fans berharap tim kesayangannya bisa menjadi kampiun suatu kompetisi, tetapi acap tak terjadi. Akhirnya mereka pun hanya bisa berkhayal akan kesuksesan. Bermimpi akan selebrasi besar-besaran. berimajinasi akan trofi yang diangkat tinggi-tinggi penuh kekuasaan.
Logika memaksa kita untuk berpikir lurus. Secara logika, Manchester City dan Chelsea dengan dana besar, kumpulan pemain hebat, serta manajer berkelas, adalah kandidat utama juara Premier League. Terbukti logika seperti itu benar adanya ketika melihat hingga pekan ke-31, keduanya berada di posisi satu dan tiga dengan selisih poin tipis.

Ketika anda bertanya kepada fans Liverpool awal musim ini mengenai target, 80 persen akan menjawab kembali ke empat besar dan berkiprah di Liga Champions. Mengapa? Karena secara logika nyata, fakta yang ada, skuat The Reds belum sedalam klub-klub papan atas lainnya. Lolos ke peringkat empat saja diperkirakan tak mudah saat itu.

Tetapi, imajinasi para fans untuk melihat kembali kejayaan The Reds cepat atau lambat mulai mendekati kenyataan. Tuhan memberikan keajaiban secara bertahap musim ini untuk Liverpool.

Liverpool memiliki pasangan striker luar biasa pada sosok Luis Suarez dan Daniel Sturridge, di mana keduanya telah mencetak 48 gol di Liga (Suarez 28, Stu 20) hingga pekan ke-31 ini. Jumlah yang sama dengan total gol sebuah tim yang menjuarai Premier League musim lalu.  Lalu, The Reds juga berhasil memiliki keunggulan 17 poin atas Manchester United. Ini luar biasa. Jelas tak ada satu orang pun yang memprediksikan hal ini pada awal musim.






Beberapa fans mungkin tak membayangkan betapa seringnya Liverpool mencetak lebih dari tiga gol musim ini. Boro-boro membantai lawan, Liverpool di dua tiga musim sebelumnya saja sulit meraih kemenangan lebih dari dua kali berturut-turut. Kini, Liverpool memiliki hasrat dan mental yang berbeda. Mental tim besar mereka telah kembali, selain juga karena adanya filosofi yang berhasil diimplementasikan dengan tepat.

Melihat kebangkitan Steven Gerrard juga menjadi fantasi tersendiri. Sudah beberapa musim sang kapten acap tak maksimal walau tetap menjadi andalan tim. Fans merindukan Gerrard yang masih bernomor 17, atau Gerrard yang baru menjadi kapten dan menjadi pahlawan tunggal di Istanbul 2005.

Tetapi berbeda dengan musim ini, sosok yang juga menjadi kapten timnas Inggris tersebut telah mencetak 11 gol dan delapan assist. Performanya meningkat drastis, mentalnya berkembang secara rupawan. Dia kembali muda! Mungkin kita semua lupa Gerrard sempat mengatakan bisa pensiun dua tiga tahun lagi pada musim panas lalu.





Kehadiran Dr. Steve Peters sebagai psikater Liverpool dianggap Gerrard menjadi salah satu faktor besar kebangkitannya. Meski ia juga tak menampik pengaruh Brendan Rodgers yang menempatkan dia sebagai seorang regista dan sukses.

"He's really helped me, not so much with the technical side of the game but with what's going on in my head and the mental preparation. I had a groin avulsion, which is where your groin muscle comes off the bone, and it's a career-threatening injury. At the time I'd seen three or four surgeons and they weren't really convincing me that I could play again, so I turned to him. He helps you with positivity, the power of thought, staying upbeat, that sort of stuff. I was a little bit lost and he just simplifies what's going on. If the players buy into it he will be able to help them with mental preparation, especially in pressure situations," ucap Gerrard tentang Dr. Steve Peters.

Imajinasi para fans yang sempat tenggelam untuk melihat Gerrard mengangkat trofi Premier League, akhirnya kembali memuncak. Imajinasi yang berujung pada impian itu terus membesar seiring berjalannya waktu. Selebrasinya membuat Gerrard terlihat lebih muda. Kerutan di dahinya pun perlahan menghilang seiring banyaknya senyuman yang keluar belakangan ini.

Anda tak akan mengira bahwa Liverpool ada di peringkat ketiga sebagai Top Rated Team di Eropa menurut Whoscored. Dalam daftar itu, Liverpool hanya di bawah FC Bayern dan Barcelona. Berada di peringkat kedua klasemen dengan selisih hanya satu poin dari Chelsea, Liverpool masih tak terkalahkan di Premier League pada tahun ini (10 menang, 2 imbang). Imajinasi & mimpi yang lambat laun menjadi kenyataan.

The Reds menjadi harapan baru sepak bola seutuhnya setelah Borussia Dortmund pada 2010-12. Tak belanja besar. Membutuhkan dua-tiga musim untuk mencapai performa terbaik. Memiliki manajer muda yang sangat mengerti akan taktik yang akan dipakai. Memiliki filosofi yang indah dipandang mata dan membuat pencinta sepak bola netral pun terpaksa menyalakan tv untuk menonton. Memiliki pemain-pemain muda istimewa. Pada akhirnya, Dortmund juara sebagai protagonis. Beberapa fase di atas kini sedang dialami Liverpool.

"I didn't realise Liverpool were the only club in the top 4 not built on corruption/lies. Good for them fighting the good fight." Bahkan Nooruddean (@BeardedGenius), salah satu penulis sekaligus pencinta Man United, menulis seperti itu di akun twitternya.

Imajinasi akan hari indah itu semakin jelas di mata para fans. Bahkan suasana Anfield sesaat sebelum laga melawan Sunderland dini hari tadi (27/03/14) begitu mencengangkan. Malam itu, atmosfer stadion laiknya European night.





Para fans berkumpul membentuk guard of honour saat bus para pemain datang ke Anfield. Chant-chant berkumandang. Red smoke bomb terlihat jelas. Bendera-bendera besar dikibarkan dengan bangga (bukan, bukan bendera plastik). This is the real football. Ini hanya melawan Sunderland. Sunder-"fuckin"-land. The Reds pun kembali meraih kemenangan.





Ketika imajinasi yang lama diimpikan mulai terealisasikan perlahan, maka harapan semakin dekat dengan kenyataan. Imajinasi bukan setan. Jangan takut berimajinasi karena Tuhan Maha Mengetahui apa yang diharapkan.

“I believe in the power of the imagination to remake the world, to release the truth within us, to hold back the night, to transcend death, to charm motorways, to ingratiate ourselves with birds, to enlist the confidences of madmen.” - J.G. Ballard.


thanks to : Redzi Arya Pratama (@redzkop)
SHARE

Khusairi Abdy

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Post a Comment